BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar
belakang
Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian pendidikan
keseluruhan, pada hakikatnya adalah proses interaksi antara peserta didik
dengan lingkungan yang dikelola melalui aktivitas jasmani secara sistematik
menuju pembentukan manusia seutuhnya. Aktivitas jasmani tersebut dapat
diartikan sebagai kegiatan peserta didik untuk meningkatkan keterampilan
motorik dan fungsional. Dengan kata lain, Prinsip-prinsip pembelajaran
pendidikan jasmani yang dikembangkan haruslah dapat memacu pada pembentukan,
pengembangan dan peningkatan kualitas kemampuan unsur-unsur kognitif, afektif
dan psikomotorik. Sesuai dengan makna pendidikan jasmani yaitu pendidikan
melalui aktivitas fisik. Maka salah satu prioritas utama yang ingin dicapai
dalam penjasorkes adalah penguasaan keterampilan motorik. Oleh sebab itu
aktivitas yang diberikan hendaknya mampu membangkitkan dan memberikan
kesempatan kepada anak untuk kreatif dan aktif, serta mampu mengembangkan
keterampilan motorik dan potensi anak. Dengan demikian, selama anak mengikuti
proses belajar penjas secara langsung akan dapat merangsang terpacunya suatu
penguasaan keterampilan gerak pada umumnya dan keterampilan pada cabang
olahraga tertentu pada khususnya.
Sedangkan ruang lingkup untuk mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga
dan Kesehatan meliputi aspek-aspek : Permainan dan Olahraga, aktivitas
pengembangan, aktivitas senam, aktivitas ritmik, aktivitas air, pendidikan luar
kelas dan Kesehatan. Dalam hal ini bolavoli masuk ke dalam Permainan dan
Olahraga.
Sosialisasi olahraga bolavoli melalui sekolah ternyata cukup efektif
karena bolavoli merupakan salah satu bentuk permainan yang dapat dipelajari dan
dimainkan oleh anak-anak mulai tingkatan Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi.
Tentu saja dalam proporsi dan tingkat keterampilan yang berbeda. Bagi anak usia
SD, bolavoli termasuk cabang olahraga yang sangat digemari karena olahraga ini
sangat unik, mudah dipelajari dan dimainkan, apalagi jika bentuk dan aturan
permainanya disesuaikan dengan usia mereka. Dengan demikian secara tidak
langsung dapat mengembangkan unsur-unsur seperti : kegembiraan, keterampilan,
persaingan, kerjasama dan sportifitas.
Peserta didik pada jenjang SD
sebaiknya harus sudah menguasai teknik servis dengan benar. Namun terdapat
banyak Peserta didik yang belum menguasai teknik servis ini sehingga pemainan
bolavoli belum dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan servis salah satunya adalah
metode atau cara pengajaran guru. Terkadang guru mengajarkan teknik servis
secara langsung dan tidak secara bertahap.
Namun penulis juga melihat ada beberapa guru yang mengajarkan servis
dengan menggunakan dua tahapan dan tiga tahapan dalam proses pembelajaran
servis. Setiap metode pembelajaran akan menimbulkan dampak positif dan
negatif. Oleh karena itu dari dua metode
yang akan penulis teliti bisa diambil metode yang sesuai untuk meningkatkan
kemampuan servis dari peserta didik SD.
III. PERMASALAHAN
Permasalahan dalam makalah ini hanya dibatasi metode dalam melakukan
pembelajaran servis dalam bola voli khususnya servis bawah dalam permainan bola
voli.
Maka permasalahan dalam makalah ini adalah :
1.
Apa saja metode yang dapat digunakan untuk mempelajari
servis pada Bola voli ?
2.
Manakah metode yang lebih efektif dalam melakukan
pembelajaran servis bawah pada permainan bola voli ?
IV. TUJUAN
Adapun tujuan dari makalah ini adalah :
- Untuk mengetahui metode pembelajaran servis bawah dalam bolavoli.
- Untuk mengetahui metode mana yang lebih efektif dalam pelaksaanan pembelajaran servis bawah pada permainan bola voli.
V. MANFAAT
Dari makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
- Merupakan sumbangan yang berarti bagi para guru pendidikan jasmani, Olahraga dan Kesehatan dalam memilih model pembelajaran yang tepat dalam permainan bolavoli, yaitu metode pembelajaran yang efektif dan efisien dalam hal servis.
- Makalah ini diharapkan dapat dijadikan bahan pembanding bagi yang berminat untuk mengadakan makalah lebih lanjut dalam bidang servis.
BAB
II
ISI
I. LANDASAN
TEORI
1.1 Sejarah
Permaian Bola Voli
Permainan bola voli diciptakan oleh William G. Morgan seorang Instruktur
pendidikan jasmani (Director of Phsycal Education) di YMCA pada tanggal 9
Februari 1895, di Holyoke, Massachusetts (Amerika Serikat). Beliau
dilahirkan di Lockport, New York pada tahun 1870, dan meninggal pada tahun
1942.
YMCA (Young Men’s Christian Association) merupakan sebuah organisasi yang
didedikasikan untuk mengajarkan ajaran-ajaran pokok umat Kristen kepada para
pemuda, seperti yang telah diajarkan oleh Yesus. Organisasi ini didirikan pada
tanggal 6 Juni 1884 di London, Inggris oleh George William. Setelah bertemu
dengan James Naismith (seorang pencipta olahraga bola basket yang lahir pada
tanggal 6 November 1861, dan meninggal pada tanggal 28 November 1939), Morgan
menciptakan sebuah olahraga baru yang bernama Mintonette. Sama halnya dengan
James Naismith, William G. Morgan juga mendedikasikan hidupnya sebagai seorang
instruktur pendidikan jasmani. William G.
Morgan yang juga merupakan lulusan Springfield College of YMCA ,
menciptakan permainan Mintonette ini empat tahun setelah diciptakannya olahraga
permainan basketball oleh James Naismith. Olahraga permainan Mintonette
sebenarnya merupakan sebuah permainan yang diciptakan dengan mengkombinasikan
beberapa jenis permainan. Tepatnya, permainan Mintonette diciptakan dengan
mengadopsi empat macam karakter olahraga permainan menjadi satu, yaitu bola
basket, baseball, tenis, dan yang terakhir adalah bola tangan (handball). Pada
awalnya, permainan ini diciptakan khusus bagi anggota YMCA yang sudah tidak
berusia muda lagi, sehingga permainan ini-pun dibuat tidak seaktif permainan
bola basket.
Nama permainan in semula disebut “Minonette” yang hampir serupa dengan
permainan badminton. Jumlah pemain di sini tak terbatas sesuai dengan tujuan
semula yakni untuk mengembangkan kesegaran jasmani para buruh di samping
bersenam secara missal. William G. Morgan kemudian melanjutkan idenya untuk
mengembangkan permainan tersebut agar mencapai cabang olah raga yang
dipertandingkan.
Nama permainan kemudian menjadi “volley ball yang artinya kurang lebih
mem-volibola pada pada tahun 1896, pada demonstrasi pertandingan pertamanya di
International YMCA Training School. Pada awal tahun 1896 tersebut, Dr. Luther
Halsey Gulick (Director of the Professional Physical Education Training School
sekaligus sebagai Executive Director of Department of Physical Education of the
International Committee of YMCA) mengundang dan meminta Morgan untuk
mendemonstrasikan permainan baru yang telah ia ciptakan di stadion kampus yang
baru. Pada sebuah konferensi yang bertempat di kampus YMCA, Springfield
tersebut juga dihadiri oleh seluruh instruktur pendidikan jasmani.
Dalam kesempatan tersebut, Morgan membawa dua tim yang pada masing-masing
tim beranggotakan lima orang. Dalam kesempatan itu, Morgan juga menjelaskan
bahwa permainan tersebut adalah permainan yang dapat dimainkan di dalam maupun
di luar ruangan dengan sangat leluasa. Dan menurut penjelasannya pada saat itu,
permainan ini dapat juga dimainkan oleh banyak pemain. Tidak ada batasan jumlah
pemain yang menjadi standar dalam permainan tersebut. Sedangkan sasaran dari
permainan ini adalah mempertahankan bola agar tetap bergerak melewati net yang
tinggi, dari satu wilayah ke wilayah lain (wilayah lawan).
Tahun 1922 YMCA berhasil mengadakan kejuaraan nasional bola voli di
Negara Amerika Serikat. Pada saat perang dunia I tentara-tenatra sekutu
menyebarluaskan permainan ini ke Negara –negara Asia dan Eropa terutama negarea
Jepang, Cina, India, Filipina, Perancis, Rusia, Estonia, Latvia, Ceko-slovakia,
Rumania, Yugoslavia dan Jerman.
Dalam perang dunia II permainan ini tersebar luas di seluruh dunia
terutama di Eropa dan Asia. Setelah perang dunia II prestasi dan popularitas
bola voli di USA menurun, sedang di Negara lain terutama Eropa Timur dan Asia
berkembang sangat cepat dan massal.
Mengingat turnamen bola voli yang pertama (1947) di Polandia pesertanya
cukup banyak, maka pada tahun 1948 I.V.B.F (international volley ball
federation) didirikan yang beranggota 15 negara.
Indonesia mengenal permainan bola voli sejak tahun 1982 pada zaman
penjajahan Belanda. Guru-guru pendidikan jasmani didatangkan dari negeri
Belanda untuk mengembangkan olahraga umumnya dan bola voli khususnya. Di
samping guru-guru pendidikan jasmani, tentara Belanda banyak andilnya dalam
pengembangan permainan bola voli di Indonesia, terutama dengan bermain di
asrama-asrama, di lapangan terbuka dan mengadakan pertandingan antar
kompeni-kompeni Belanda sendiri.
Permainan bola voli di Indonesia sangat pesat di seluruh lapisan
mayarakat, sehingga timbul klub-klub di kota besar di seluruh Indonesia. Dengan
dasar itulah maka pada tanggal 22 januari 1955 PBVSI (persatuan bola voli
seluruh indonesia) didirikan di Jakarta bersamaan dengan kejuaraan nasional
yang pertama.
PBVSI sejak itu aktif mengembangkan kegiatan-kegiatan baik ke dalm maupun
ke luar negeri sampai sekarang. Perkembangan permainan bola voli sangat
menonjol saat menjelang Asian Games IV 1962 dan Ganefo I 1963 di Jakarta, baik
untuk pria maupun untuk wanitanya.
Pertandingan bola voli masuk acara resmi dalam PON II 1951 di Jakarta dan
POM I di Yogyakarta tahun 1951. setelah tahun 1962 perkembangan bnola voli
seperti jamur tumbuh di musim hujan banyaknya klub-klub bola voli di seluruh
pelosok tanah air.
Hal ini terbukti pula dengan data-data peserta pertandingan dalam
kejuaran nasional. PON dan pesta-pesta olahraga lain, di mana angka menunjukkan
peningkatan jumlahnya. Boleh dikatakan sampai saat ini permainan bola voli di
Indonesia menduduki tempat ketiga setelah sepak bola dan bulu tangkis.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah perbolavolian Indonesia, PBVSI telah
dapat mengirimkan tim bola voli yunior Indonesia ke kejuaraan Dunia di Athena
Yunani yang berlangsung dari tanggal 3-12 september 1989. tim bola voli yunior
putra Indonesia ini dilatih oleh Yano Hadian dengan dibantu oleh trainer
Kanwar, serta pelatih dari Jepang Hideto Nishioka, sedangkan pelatih fisik
diserahkan kepada Engkos Kosasih dari bidang kepePembelajaran PKON (pusat
kesehatan olahraga nasional) KANTOR MENPORA. Dalam kejuaraan dunia bola voli
putra tersebut, sebagai juaranya adalah :
1. Uni Sovyet
2. Jepang
3. Brazil
4. Bulagaria
5. Kuba
6. Yunani
7. Polandia
Sedangkan
Indonesia sendiri baru dapat menduduki urutan ke 15.
Dalam periode di bawah pimpinan ketua Umum PBVSI Jendral (Pol) Drs.
Mochamad Sanusi, perbolavolian makin meningkat baik dari jumlahnya perkumpulan
yang ada maupun dari lancarnya system kompetisi yang berlangsung, sampai dengan
kegiatan yang dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri.
1.2 Ciri khas
Permainan Bola Voli
Permainan bolavoli adalah suatu olahraga beregu yang dimainkan oleh dua
regu yang masing-masing terdiri dari enam orang pemain di setiap lapangan dengan
dipisahkan oleh net. Pantulan yang dimainkan itu dengan tangan atau lengan.
Tujuan dari permainan ini adalah agar setiap regu melewatkan bola secara
teratur atau baik melalui net sampai bola itu menyentuh lantai (mati ) di
daerah lawan, dan mencegah agar bola yang di lewatkan tidak menyentuh lantai
dalam lapangan sendiri.
Posisi bola saat dimulainya permainan berada pada pemain kanan garis
belakang, yaitu dimulai dengan melakukan servis, pukulan bola itu melewati atas net ke dalam daerah lapangan lawan.
Masing-masing regu berhak memainkan bola tiga kali sentuhan ( kecuali
perkenaan waktu membendung ) untuk mengembalikan ke daerah lawan. Seorang
pemain ( kecuali pembendung ) tidak diperkenankan memainkan bola dua kali
berturut-turut.
Permainan bola di udara berlangsung secara teratur, sampai bola tersebut
menyentuh lantai, bola keluar, atau satu regu gagal mengembalikan bola secara
baik. Didalam permainan BolaVoli menggunakan rely point regu yang bisa mematikan
lawan mendapat angka. Baik regu yang sedang melakukan servis maupun menerima
servis.
Apabila regu penerima memenangkan dalam permainan bola akan mendapat
giliran servis, dalam set penentuan juga mendapat angka dan setiap pemain
melakukan pergeseran satu posisi menurut arah jarum jam. Perputaran tersebut
untuk menjamin bahwa pemain pada kedua belah pihak yang berada di depan net dan
pada daerah belakang.
Suatu set dimenangkan oleh regu yang pertama mendapat angka 25 dengan
minimal selisih angka 2 point. Dalam kedudukan angka 24-24, permainan
dilanjutkan sampai terdapat selisih 2 angka (24-26, 25-27, 28-30) dan
seterusnya tidak terbatas.
Bila kedudukan set 2-2, maka set penentuan dimainkan hanya sampai angka
15, dengan selisih 2 angka (14-16, 15-17, 16-18).
1.3
Fasilitas, Alat dan Perlengkapan
1.3.1
Lapangan
Lapangan dibuat di tanah yang rata dan cukup keras.
Bila di dalam gedung maka lantainya harus tidak licin, rata dan tinggi atap
gedung paling sedikit tujuh meter. Garis-garis lapangan selebar 5cm yang
terdiri dari garis tengah, garis serang, garis samping dan garis belakang.

1.3.2
Jaring
Ukuran panjang jarring adalah 9,50m dan lebar 1meter.
Ukuran petak-petak jarring / net (10 X 10 ) cm. Tali pemancang jarring kalau
mungkin dengan kawat baja, bila tidak mungkin dengan menggunakan tali yang
cukup kuat dan tidak terlalu lentur bila telah ditegangkan. Jarring harus
diberi kain kanvas yang dijahit lapis dua selebar 5cm, sepanjang tepi atas
jarring. Ukuran tinggi jarring untuk pria 2,43 meter dan untuk wanita setinggi
2,24 meter. Pada kedua samping jarring dipasang pita samping tegak lurus di
atas pertemuan antara garis batas samping dan garis tengah selebar 5cm.

1.3.3
Rod/Tongkat
Rod di buat dari bahan fiberglass dengan ukuran panjang
180 cm dan garis tengah 1cm. Tongkat itu berwarna kontras dengan 10cm panjang
tiap-tiap bagian berwarna mera putih. Tongkat dipasang tepat menempel pada pita
batas samping, tongkat yang menonjol 80 cm di tepi atas net.
1.3.4
Bola
Bola harus bulat terbuat dari kulit, bola dalamnya
terbuat dari karet atau bahan lain yang semacam. Keliling bola 65 sampai 67 cm,
berat bola 250-280 gram.
1.4
Tinjauan Teknik Dasar Servis
Penguasaan teknik dasar servis dalam permainan bolavoli
sangat penting Karena servis pada
awalnya adalah sebagai awal di mulainya suatu pertandingan bolavoli.
Servis merupakan permulaan dalam pertandingan hal ini sesuai dengan
pendapat Dieter Beuterstahl ( 1986 : 9) bahwa : “servis adalah sentuhan pertama
dengan bola”.
Sedangakan menurut Theng KH.(1972 : 28) bahwa: “servis adalah suatu
pukulan yang di lakukan dari daerah service” .
Sedangkan dengan perkembangan olahraga bolavoli dewasa ini servis bukan
hanya sebagai sentuhan pertama dalam pertandingan bolavoli melainkan sebagai
serangan yang pertama dalam pertandingan bolavoli. Service kini dapat dimasukan
kedalam kategori serangan, bahkan merupakan serangan yang pertama ( Theng KH.
1972 : 28).
Mula-mula servis ini hanya di anggap sebagai pukulan permulaan saja, cara
melempar bola untuk memulai permainan. Tetapi servis ini kemudian berkembang
menjadi suatu senjata yang ampuh untuk menyerang (Dieter beutelstahl 1986 : 9 )
Pada jaman sekarang ini servis ini tidak lagi sebagai tanda dimulainya
pertandingan atau sekedar menyajikan bola tetapi hendaknya di artikan sebagai
suatu serangan yang pertama kali bagi regu yang melakukan servis (Suharno HP
1982 : 16 )
Servis jika ditinjau dari segi taktik sudah merupakan suatu serangan awal
untuk mendapat nilai agar agar suatu regu berhasil meraih kemenangan ( M. Yunus
1992 : 69 ).
Oleh karena itu, diperlukan penguasaan servis yang
benar-benar memadai agar dalam melakukan teknik servis dapat berhasil dengan
baik.
Dalam permainan bolavoli dewasa ini servis adalah
serangan yang pertama dilakukan oleh regu yang melakukan servis, oleh karena
itu setiap pemain dalam suatu team harus benar-benar menguasai servis dengan
baik selain sebagai serangan servis juga sebagai modal dalam permainan bolavoli.
Untuk dapat melakukan teknik servis dengan baik harus
memenuhi beberapa persyaratan.
Adapun persyaratan tersebut adalah :
- Arahkan servis ke tampat pemain yang lemah
- arahkan servis ke tempat yang kosong sesuai pola yang di pergunakan lawan
- Arahkan bola kearah antara kedua pemain defender
Seperti yang telah di sebutkan pada awal servis dahulu
hanya sebagai awal sebelum memulai permainan bola voli namun sekarang telah
berkembang menjadi serangan yang dilakukan pertama kali oleh regu yang
melakukan servis. Dan kesalahan-kesalahan yang umum terjadi saat melakukan
servis adalah :
- bola bergerak ke atas bukan ke depan dan tidak dapat menyebrangi net
- bola tidak cukup bertenaga untuk menyebrangi net sehingga bola menyangkut di net
- berat badan terlalu bertumpu di kaki belakang sehinnga bola melambung tinggi
- bola jatuh melewati garis belakang lawan
- bola servis terlalu ke kanan atau kekiri melewati garis samping lapangan lawan
II.
Macam –macam servis
Macam
macam servis yang digunakan adalah:
- Menurut putaran bola
- Top spin
- Back spin
- In side spin
- Out side spin
- Float
- Servis tangan bawah
- Back spin
- Out side spin
- In side spin
- Cutting underhand
- Floating underhand
- Servis atas ( Overhead service )
- Tennis service / hook
- Floating service
- In side spin
- Out side spin
- Round house overhead
- Slider floating overhead
- Drive overhead
- Honggaria overhead (Suharno HP, 1982 : 15 )
Sedangkan menurut dieter beutelstahl (1986 : 10 ), bahwa jenis servis yang paling
umum adalah :
- Underarm service
- Hook service
- Floating service
Dan dalam pengembangannya masih ada servis dengan
melompat atau jump serve, slider floating overhead dan servis cekis. pada
dasarnya gerakan service terdiri dari beberapa tahap tahapan yaitu throw up ( melempar bola ), sriking arm (
ayunan lengan ), impack (perkenaan bola ), follow trought ( gerak lanjut ). (bonnie,1993
: 26).
Sedangkan menurut Dieter beutelstahl ( 1986 : 10 ),
bahwa “setiap jenis servis itu di bagi dalam tiga tahap yaitu: tahap pertama
melempar bola ke atas ( throw up), tahap ke dua memukul bola ( hitting ), dan
tahap ke tiga gerak akhir ( follow trough )”.
Tetapi dari
tiap-tiap service terdapat perbedaan. Maka perlu diuraikan macam-macam Servis
yang ada sebagai pembanding dengan teknik servis yang diteliti. Untuk itu
penjelasan selanjutnya menitik beratkan pada gerakan servis bawah normal.
Untuk lebih jelasnya, berikut penulis uraikan tentang
teknik-teknik servis yang umum di lakukan di dalam permainan bola voli.
2.1
Servis tangan atas
2.1.1
Servis tennis / hook
Sikap
permulaan :
Ambil sikap berdiri dengan kaki kiri berada lebih ke
depan daripada kaki kanan dan lutut sedikit ditekuk. Tangan kiri dan kanan
sama-sama memegang bola. Tangn kiri menyangga bola dan tangan kanan memegang
bagian atas bola. Bola dilambungkan dengan tangan kiri ke atas sampai
ketinggian kurang lebih setengah meter di atas kepala. Tangan kanan segera
ditarik ke belakang atas kepala, dengan telapak tangan kanan menghadap ke
depan.
Sikap
saat perkenaan :
Setelah tangan kanan berada di atas belakang kepala dan
bola berada sejangkauan tangan maka segera bola di pukul dengan cara memukul
seperti pada waktu smash.
Setelah bola berhasil dipukul maka bola akan menjadi
top spin selama menjalani lintasanya. Sewaktu akan melakukan servis perhatian
harus selalu terpusat kepada bola. Lecutan tangan lengan sangat diperlukan
didalam tennis servis ini dan bila perlu dibantu dengan gerakan togok kearah
depan sehingga bola akan memutar lebih banyak. Pada waktu lengan dilecutkan,
siku jangan sampai ikut tertarik ke bawah.
Sikap
akhir :
Teruskan gerakan lengan dan segera langkahkan kaki ke
depan dan bergerak ke posisi di dalam lapangan pertandingan.

Gambar
1 : Servis Hook/ Top spin. ( Barbara L Vierra, 1996 : 32 )
2.1.3
Servis mengapung ( float )
Sikap
permulaan :
Berdiri dengan kaki kiri berada lebih ke depan daripada
kaki kanan dan kedua lutut di tekuk. Tangan kiri dan kanan sama-sama memegang
bola. Tangan kiri menyangga bola dan tangan kanan memegang bagian atas bola.
Bola dilambungkan dengan tangan kiri ke atas sampai ketinggian kurang lebih
setengah meter di atas kepala. Tangan kanan segera ditarik ke belakang atas
kepala, dengan telapak tangan kanan menghadap ke depan.
Sikap
saat perkenaan :
Bola dilambungkan dengan kaki kiri agak ke samping atas
kanan depan tidak terlalu tinggi. Begitu bola melambung ke atas setinggi kepala
maka segeralah tangan kanan yang telah di tegangkan dipukulkan dibagian tengah
belakang bagian bola. Agar pukulan tangan betul-betul menghasilkan bola yang
mengapung maka harus diusahakan pada saat memukul bola tidak ada atau sedikit
pergerakan pada pergelangan tangan.
Ini
dapat diusahakan dengan cara:
·
Memukul bola dengan tumit tangan
·
Dengan ibu jari di lipat kedalam dan menempel
pada telapak tangan
·
Tangan dalam keadaan mengenggam
Pukulan harus dilaksanakan dengan cepat dan setelah
bola terpukul gerakan tangan segera di tahan.
Sikap
akhir :
Setelah tangan kanan memukul bola maka dilanjutkan
dengan melangkah ke depan masuk ke dalam lapangan permainan.


Gambar 3 : Perkenaan bola pada saat servis atas (M.Yunus, 1992 : 75 )
2.1.4
Servis cekis
Sikap
permulaan :
Ambil sikap berdiri menyamping dengan tubuh bagian kiri
berada lebih dekat ke jarring ( sikap ini bagi yang tidak kidal ). Tangan kiri
dan kanan bersama-sama memegang bola. Pada saat bola akan dilambungkan maka
badan diliukan kearah belakang sedikit dan lutut ditekuk. Kedua tangan
dijulurkan kearah samping bawah kanan masih dalam keadaan memegang bola.
Setelah itu bola dilambungkan ke atas kepala agak tinggi dengan kedua tangan.
Begitu bola lepas dari tangan maka tangan kanan ditarik ke samping kanan bawah,
badan dalam keadaan meliuk ke samping kanan, berat badan berada di kaki kanan
telapak tangan menghadap ke atas. Bila bola sudah setinggi jangkauan tangan
maka secepatnya badan bersama-sama lengan kanan dibawa meliuk ke samping kiri.
Sikap
saat perkenaan dengan bola :
Perkenaan tangan pada bola adalah di bagian bawah
belakang bola. Pukulan tangan pada bola dibantu dengan liukan badan., lecutan
lengan dan gerakan pergelangan tangan sedemikian rupa sehingga bola setelah
dipukul mental keras dan top spin.
Karena putaran dan kerasnya pukulan maka bola akan
menjalani lintasanya dengan cepat dan tajam jatuhnya. Gerakan tubuh waktu
diliukan kearah samping kiri bersama-sama dengan ayunan lecutan lengan dan
tangan kanan maka keseluruhan gerakan itu seakan-akan terletak dalam satu
bidang datar. Pada saat tangan mengenai bola, berat bada terletak pada kedua kaki.
Jadi pada saat itu badan dalam keadaan setimbang dan stabil.
Sikap
akhir :
Setelah bola berhasil di pukul maka segera berat badan
dipindahkan kekaki kiri dan terus diikuti dengan gerakan maju masuk ke dalam
lapangan permainan. Selanjutnya mengambil sikap siap normal. Tangan kiri selama
proses melakukan servis dalam keadaan relaks dan hanya sekedar dipakai untuk
menjaga keseimbangan.

Gambar 4 : Servis Cekis (Barbara
L Vierra, 1996 : 33 )

Gambar
5 : Rangkaian servis Cekis (M. Yunus, 1992 : 77 )
7.1.5
Jumping servis ( servis dengan melompat)
Sikap
pemulaan :
Berdiri di daerah servis menghadap ke net kedua tangan
memegang bola
Sikap
perkenaan :
Lambungkan bola setinggi lebih kurang 3 meter agak di
depan badan, kemudian badan merendah dan menekuk lutut untuk melakukan awalan
melompat kemudian bola di pukul setinggi mungkin seperti gerakan smash.
Lecutkan pergelangan tangan secepatnya sehingga menghasilkan pukulan top spin
yang tinggi agar bola secepat mungkin turun ke daerah lapangan lawan.
Sikap
akhir :
Setelah melakukan dengan meraih bola setinggi-tingginya
pada saat melayang diudara, langsung mendarat di dalam lapangan dan segera
mengambil posisi siap untuk menerima pengembalian atau serangan dari pihak
lawan. Sebagai catatan, sewaktu mengambil awalan, tolakan kaki kedua kaki harus
berada di belakang garis, tetapi pendaratan setelah memukul boleh menginjak
garis atau mendarat jauh di dalam lapangan sesuai dengan peraturan yang
berlaku.

Gambar
6 : Jump servis (M. Yunus,1992 : 78)
2.2
Servis tangan bawah
2.2.1
Cutting underhand service
Sikap
permulaan :
Berdiri sikap normal dengan arah menyamping lapangan. Kaki kiri agak ke depan sedikit,
sedangkan kaki kanan pada posisi di belakan gsedikit sebagai penerima berat
badan. Tangan pemukul bola lebih dekat dengan net, tangan yang lain memegang
bola di depan kanan bawah lurus dengan bahu kanan berjarak satu jangkauan
lengan pemukul. Konsentrasi pandangan ke bola yang akan di pukul ,sedangkan
posisi telapak tangan pemukul membentuk bidang sagital dimana ibu jari terletak
di atas jari yang lain sebagai alat pemotong bola dalam pukulan servis.
Sikap
pada saat perkenaan :
Bola di lepas keatas kira-kira 5cm oleh tangan kiri,
tangan kanan sebagai pemukul bola siap untuk diayunkan, pukulan bola
perkenaanya seperti memotong bagian tengah bawah bola agak ke sisi kiri. Tapak
tangan membentuk bidang sagital dimana ibu jari beserta bidang punggung tangan
sebagai pemukul bola utama. Dengan ayunan secukupnya dalam memotong bola itu,
akibatnya jalan bola akan melambung tinggi dengan putaran bola menjauhi net
(top spin). Pada saat memukul bola kaki kanan di pindahkan ke depan, untuk
memindahkan berat badan yang berguna untuk menambah kekuatan dan kecepatan
memotong bola. Gerak kaki, badan tetap mengesampingkan net arahnya selama
proses memukul
bola,
tetapi pandangan mata kearah bola yang di pukul dan kesasaran lapangan lawan.
Sikap
setelah memukul :
Gerakan badan, lengan, kaki harus harmonis arahnya
setelah memukul bola. Pandangan mata kearah bola yang dipukul, segera setelah
itu putar badan kearah kanan, kemudian masuk ke lapangan permainan untuk siap
bermain. Pada teknik cutting underhand
service ini sering dilakukan oleh pemain bila bertanding di luar, mungkin juga
di dalam gedung, asal di atas lapangan ada ruang bebas minimal 10m di atas net.
Teknik ini merupakan teknik tinggi servis tangan bawah.
2.2.2
Servis mengapung tangan bawah
Sikap
permulaan :
Berdiri normal dengan kaki kiri agak didepan kaki
kanan. Pegang bola dengan tangan kiri, konsentrasi pandangan kearah bola. Bola
di lambungkan berada di depan sebelah kanan sejajar dengan bahu kanan setinggi
pinggang. Pada saat lemparan bola itu lengan kanan dengan tapak tangan
menggenggam siap untuk diayunkan sebagai pemukul dalam servis.
Sikap
saat perkenaan :
Perkenaan pukulan tepat pada bagian belakang tengah
bola, dimana tapak tangan mengenggam dan pukulan dengan tumit tangan. Pada saat
memukul pergelangan tangan di tegangkan sehingga perkenaan bola itu tepat pada
titik tengah belakang bola tanpa ada gerakan dari pols (pergelangan tangan).
Akibat pukulan demikian itu selama bola melintasi jalan di udara tidak ada
putaran sedikitpun. Bola disamping tidak berputar Jalan bola seperti mengapung
zig-zag kekanan dan kekiri udara.
Sikap
akhir setelah memukul :
Setelah memukul, kaki kanan melangkah ke depan secara
relaks untuk menjaga keseimbangan dan memindahkan berat badan untuk menambah
kekuatan pukulan. Pandangan mata selalu kearah bola yang di pukul kemudian
masuk di lapangan siap bermain.
Teknik servis ini sangat efektif dan efisien bila
diterapkan dalam pertandingan bola voli.
Untuk pemain putri lebih baik dilatihkan teknik ini
sesuai dengan sifat kewanitaanya yang biasanya lemah dan dalam unsur kecepatan
dan kekuatan lengan.
Kelihatanya sederhana pelaksanaan teknik servis cutting
underhand service atau teknik servis mengapung tangan bawah ini namun dalam
pertandingan-pertandingan servis ini sulit diterima oleh lawan.
2.2.3
Servis tangan bawah normal
Sikap
permulaan :
Mula-mula berdiri dengan kaki kiri agak lebih ke depan
dari kaki kanan ( bagi yang tidak kidal). Pegang bola dengan tangan kiri.
Lambungkan bola ke atas tidak terlalu tinggi, pada saat itu pula tangan kanan
di tarik ke bawah ke belakang. Setelah bola yang di lambungkan tadi berada di
arah depan pelaksana kira-kira setinggi pinggang, maka pada saat itu pula
tangan serta lengan kanan yang lurus siap diayunkan dari arah belakang ke depan
atas untuk memukul bola.
Sikap
saat perkenaan :
Perkenaan bola adalah pada tangan. Telapak tangan menghadap
bola dan tangan pada waktu itu dalam keadaan di tegangkan agar terjadi pantulan
yang di anggap sempurna. Pada saat perkenaan tangan pada bola, di samping
tangan di tegangkan dapat juga di tambah dengan gerakan tangan secara
eksplosif. Disamping pukulan tersebut dapat pula dilakukan dengan cara lain
yaitu dengan tangan mengepal atau mengenggam dengan genggaman menghadap ke
bola.
Sikap
akhir :
Setelah memukul bola maka di ikuti langkah kaki kanan
ke depan dan terus masuk ke lapangan permainan serta mengambil sikap siap
normal.( Suharno HP,1982 : 17 ).
Sedangkan menurut Dieter beutelstahl ( 1986 : 11 ) :
Tahap pertama : Fase trow up ( melempar bola ). Berat
badan ditempatkan pada kaki sebelah belakang. Lengan digerakan ke belakang dan
ke atas.
Tahap kedua : lengan bermain ( dengan ini yang
dimaksudkan lengan yang digunakan untuk memukul bola. Dengan istilah asing
disebut “strike arm”. Lengan kanan untuk pemain kanan dan lengan kiri untuk
pemain kidal) diayunkan ke bawah, dari belakang ke depan dan memukul bola yang
telah di lemparkan rendah-rendah. Sementara itu berat badan dipindahkan ke kaki
sebelah depan. Bola dipukul dengan telapak tangan terbuka, pergelangan sekaku
mungkin.
Tahap ketiga: Striking arm terus mengikuti arah bola.
Pemain cepat-cepat berpindah ke posisi yangbaru dilapangan.

Gambar
7 : Gerakan servis bawah normal (Barbara L Vierra, 1996 : 30 )
Gambar 8 : Rangkaian servis bawah. ( M. Yunus,
1992 : 73)
2.3
Tinjaun dari masing-masing bentuk Pembelajaran servis
Dalam makalah ini, Pembelajaran yang dilakukan adalah
bertujuan untuk meningkatkan kemampuan melakukan servis dalam permainan
bolavoli. Pembelajaran dalam melakukan servis sangat di perlukan yaitu untuk
memulai suatu permainan bahkan untuk menghasilkan angka pertama bagi team yang
melakukan servis.
2.3.1
Pembelajaran servis menggunakan dua tahap
Dalam Pembelajaran ini siswa melakukan servis dari
jarak tertentu kemudian berangsur-angsur mundur ke belakang ke jarak yang
sebenarnya. Dalam melakukan servis minimal anak harus bisa menempuh jarak 9
meter agar bolanya bisa masuk ke dalam lapangan lawan.
Untuk menempuh jarak 9 meter dari net maka anak akan
melakukan Pembelajaran melalui 2 tahapan yang akan membantu dalam meningkatkan
kemampuan melakukan servis pada olahraga bolavoli.
Pada tahapan jarak yang pertama adalah siswa melakukan
servis dari jarak 4,5 meter dari net. Dan pada tahapan yang selanjutnya maka
jarak itu akan di perbesar ke jarak service yang sebenarnya yaitu 9 meter dari
net.
F G H I
J
Gambar
9 : Lapangan Pembelajaran servis dua tahap
Keterangan
:
A-E = 18 meter
E-J = 9 meter
D-I = Garis tengah
C-H = Garis serang (3 m dari net )
B-G = 4,5 meter dari net
A-F = 9 meter dari net
2.3.2
Pembelajaran servis menggunakan tiga tahap
Pada Pembelajaran
servis ini siswa melakukan tiga tahapan jarak yang harus di tempuh dalam
melakukan servis. Untuk itu kita membagi lapangan menjadi tiga bagian jarak
dari net yaitu 3meter dari net, 6 meter dari net, dan 9 meter dari net.
Pada tahapan yang pertama anak melakukan Pembelajaran
servis pada jarak tiga meter dari net. Kemudian pada tahapan yang kedua siswa
melakukan servis pada jarak enam meter dari net. Sedangkan pada tahapan yang ke
tiga anak akan mundur ke belakang pada jarak yang sebenarnya yaitu pada jarak
sembilan meter dari net.
A B C D
E
F G H I
J
Gambar 10 :
Lapangan Pembelajaran servis tiga tahap.
Keterangan :
A-E = 18 meter
E-J = 9 meter
D-I = Garis tengah
C-H = Garis serang (3 m dari net )
B-G = 6 meter dari net
A-F = 9 meter dari net
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dari
beberapa uraian dan penjelasan yang telah dikemukakan di atas maka dapatlah
penulis mengambil kesimpulan bahwa dengan mata pelajaran pendidikan jasmani dan
kesehatan ini, peserta didik mampu mempraktikkan teknik-teknik dasar dalam
olahraga dengan baik serta nilai kerjasama, toleransi, percaya diri, kejujuran,
keberanian, menghargai lawan, kerja keras, dan menerima kekalahan serta dapat
mengaplikasikan cara hidup yang sehat dan bersih.
B.
SARAN
Kami
sebagai penyusun makalah ini, sangat mengharap atas segala saran – saran dan
kritikan bagi para pembaca yang kami hormati guna untuk membangun pada masa
yang akan datang untuk menjadi yang lebih baik dalam membenarkan alur-alur yang
semestinya kurang memuaskan bagi tugas yang kami laksanakan.
DAFTAR
PUSTAKA
Beutelstahl, Dieter. 1986. Belajar Bermain Bola
Volley (terjemahan). Bandung : Pionerjaya.
Bonnie Robinson. 1997. Bimbingan, Petunjuk dan
Teknik Bermain (terjemahan). Semarang : Penerbit Dahara Prize.
Durrwachter, Gerhard. 1982. Bola Voli (terjemahan).
Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Suharno HP. 1982. Dasar-dasar Permainan Bola Voli.
Yogyakarta : IKIP Yogyakarta.
__________. 1985. Metodik Melatih Permainan Bola
Voli. Yogyakarta : Depdikbud
Suharsimi Arikunto. 1991. Prosedur Makalah Suatu
Pendekatan Praktik. Jakarta : PT Aneka Cipta
Sutrisno Hadi. 1988. Metodologi Research Jilid III.
Yogyakarta : Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM.
___________.1991. Metodologi Research Jilid IV.
Yogyakarta : Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM.
Theng, KH. 1973. Volley Ball Modern. Jakarta :
Yayasan Kanisius.
Viera Barbara l. Donnie Jill Ferguson. 1996. Bola
Voli Tingkat Pemula (terjemahan). Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Yunus. M. 1992. Olahraga Pilihan Bola Voli.
Semarang : Depdikbud, Direktorat Jenderal Kependidikan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar