Rabu, 23 Januari 2019

contoh makalah permainan bola voli


BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar belakang
Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian pendidikan keseluruhan, pada hakikatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan yang dikelola melalui aktivitas jasmani secara sistematik menuju pembentukan manusia seutuhnya. Aktivitas jasmani tersebut dapat diartikan sebagai kegiatan peserta didik untuk meningkatkan keterampilan motorik dan fungsional. Dengan kata lain, Prinsip-prinsip pembelajaran pendidikan jasmani yang dikembangkan haruslah dapat memacu pada pembentukan, pengembangan dan peningkatan kualitas kemampuan unsur-unsur kognitif, afektif dan psikomotorik. Sesuai dengan makna pendidikan jasmani yaitu pendidikan melalui aktivitas fisik. Maka salah satu prioritas utama yang ingin dicapai dalam penjasorkes adalah penguasaan keterampilan motorik. Oleh sebab itu aktivitas yang diberikan hendaknya mampu membangkitkan dan memberikan kesempatan kepada anak untuk kreatif dan aktif, serta mampu mengembangkan keterampilan motorik dan potensi anak. Dengan demikian, selama anak mengikuti proses belajar penjas secara langsung akan dapat merangsang terpacunya suatu penguasaan keterampilan gerak pada umumnya dan keterampilan pada cabang olahraga tertentu pada khususnya.
Sedangkan ruang lingkup untuk mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan meliputi aspek-aspek : Permainan dan Olahraga, aktivitas pengembangan, aktivitas senam, aktivitas ritmik, aktivitas air, pendidikan luar kelas dan Kesehatan. Dalam hal ini bolavoli masuk ke dalam Permainan dan Olahraga.
Sosialisasi olahraga bolavoli melalui sekolah ternyata cukup efektif karena bolavoli merupakan salah satu bentuk permainan yang dapat dipelajari dan dimainkan oleh anak-anak mulai tingkatan Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Tentu saja dalam proporsi dan tingkat keterampilan yang berbeda. Bagi anak usia SD, bolavoli termasuk cabang olahraga yang sangat digemari karena olahraga ini sangat unik, mudah dipelajari dan dimainkan, apalagi jika bentuk dan aturan permainanya disesuaikan dengan usia mereka. Dengan demikian secara tidak langsung dapat mengembangkan unsur-unsur seperti : kegembiraan, keterampilan, persaingan, kerjasama dan sportifitas.
Peserta didik  pada jenjang SD sebaiknya harus sudah menguasai teknik servis dengan benar. Namun  terdapat banyak Peserta didik yang belum menguasai teknik servis ini sehingga pemainan bolavoli belum dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan servis salah satunya adalah metode atau cara pengajaran guru. Terkadang guru mengajarkan teknik servis secara langsung dan tidak secara bertahap.
Namun penulis juga melihat ada beberapa guru yang mengajarkan servis dengan menggunakan dua tahapan dan tiga tahapan dalam proses pembelajaran servis. Setiap metode pembelajaran akan menimbulkan dampak positif dan negatif.   Oleh karena itu dari dua metode yang akan penulis teliti bisa diambil metode yang sesuai untuk meningkatkan kemampuan servis dari peserta didik SD.

III. PERMASALAHAN
Permasalahan dalam makalah ini hanya dibatasi metode dalam melakukan pembelajaran servis dalam bola voli khususnya servis bawah dalam permainan bola voli.
Maka permasalahan dalam makalah  ini adalah :
1.             Apa saja metode yang dapat digunakan untuk mempelajari servis pada Bola voli ?
2.             Manakah metode yang lebih efektif dalam melakukan pembelajaran servis bawah pada permainan bola voli ?
IV. TUJUAN
Adapun tujuan dari makalah ini adalah :
  1. Untuk mengetahui metode  pembelajaran servis bawah dalam bolavoli.
  2. Untuk mengetahui metode  mana yang lebih efektif dalam pelaksaanan pembelajaran servis bawah pada permainan bola voli.

V. MANFAAT
Dari makalah ini diharapkan dapat memberikan  manfaat sebagai berikut :
  1. Merupakan sumbangan yang berarti bagi para guru pendidikan jasmani, Olahraga dan Kesehatan dalam memilih model pembelajaran yang tepat dalam permainan bolavoli, yaitu metode pembelajaran yang efektif dan efisien dalam hal servis.
  2. Makalah  ini diharapkan dapat dijadikan bahan pembanding bagi yang berminat untuk mengadakan makalah lebih lanjut dalam bidang servis.

























BAB II
ISI

I. LANDASAN TEORI
1.1 Sejarah Permaian Bola Voli
Permainan bola voli diciptakan oleh William G. Morgan seorang Instruktur pendidikan jasmani (Director of Phsycal Education) di YMCA pada tanggal 9 Februari 1895, di Holyoke, Massachusetts (Amerika Serikat). Beliau  dilahirkan di Lockport, New York pada tahun 1870, dan meninggal pada tahun 1942.
YMCA (Young Men’s Christian Association) merupakan sebuah organisasi yang didedikasikan untuk mengajarkan ajaran-ajaran pokok umat Kristen kepada para pemuda, seperti yang telah diajarkan oleh Yesus. Organisasi ini didirikan pada tanggal 6 Juni 1884 di London, Inggris oleh George William. Setelah bertemu dengan James Naismith (seorang pencipta olahraga bola basket yang lahir pada tanggal 6 November 1861, dan meninggal pada tanggal 28 November 1939), Morgan menciptakan sebuah olahraga baru yang bernama Mintonette. Sama halnya dengan James Naismith, William G. Morgan juga mendedikasikan hidupnya sebagai seorang instruktur pendidikan jasmani. William G.
Morgan yang juga merupakan lulusan Springfield College of YMCA , menciptakan permainan Mintonette ini empat tahun setelah diciptakannya olahraga permainan basketball oleh James Naismith. Olahraga permainan Mintonette sebenarnya merupakan sebuah permainan yang diciptakan dengan mengkombinasikan beberapa jenis permainan. Tepatnya, permainan Mintonette diciptakan dengan mengadopsi empat macam karakter olahraga permainan menjadi satu, yaitu bola basket, baseball, tenis, dan yang terakhir adalah bola tangan (handball). Pada awalnya, permainan ini diciptakan khusus bagi anggota YMCA yang sudah tidak berusia muda lagi, sehingga permainan ini-pun dibuat tidak seaktif permainan bola basket.
Nama permainan in semula disebut “Minonette” yang hampir serupa dengan permainan badminton. Jumlah pemain di sini tak terbatas sesuai dengan tujuan semula yakni untuk mengembangkan kesegaran jasmani para buruh di samping bersenam secara missal. William G. Morgan kemudian melanjutkan idenya untuk mengembangkan permainan tersebut agar mencapai cabang olah raga yang dipertandingkan.
Nama permainan kemudian menjadi “volley ball yang artinya kurang lebih mem-volibola pada pada tahun 1896, pada demonstrasi pertandingan pertamanya di International YMCA Training School. Pada awal tahun 1896 tersebut, Dr. Luther Halsey Gulick (Director of the Professional Physical Education Training School sekaligus sebagai Executive Director of Department of Physical Education of the International Committee of YMCA) mengundang dan meminta Morgan untuk mendemonstrasikan permainan baru yang telah ia ciptakan di stadion kampus yang baru. Pada sebuah konferensi yang bertempat di kampus YMCA, Springfield tersebut juga dihadiri oleh seluruh instruktur pendidikan jasmani.
Dalam kesempatan tersebut, Morgan membawa dua tim yang pada masing-masing tim beranggotakan lima orang. Dalam kesempatan itu, Morgan juga menjelaskan bahwa permainan tersebut adalah permainan yang dapat dimainkan di dalam maupun di luar ruangan dengan sangat leluasa. Dan menurut penjelasannya pada saat itu, permainan ini dapat juga dimainkan oleh banyak pemain. Tidak ada batasan jumlah pemain yang menjadi standar dalam permainan tersebut. Sedangkan sasaran dari permainan ini adalah mempertahankan bola agar tetap bergerak melewati net yang tinggi, dari satu wilayah ke wilayah lain (wilayah lawan).
Tahun 1922 YMCA berhasil mengadakan kejuaraan nasional bola voli di Negara Amerika Serikat. Pada saat perang dunia I tentara-tenatra sekutu menyebarluaskan permainan ini ke Negara –negara Asia dan Eropa terutama negarea Jepang, Cina, India, Filipina, Perancis, Rusia, Estonia, Latvia, Ceko-slovakia, Rumania, Yugoslavia dan Jerman.
Dalam perang dunia II permainan ini tersebar luas di seluruh dunia terutama di Eropa dan Asia. Setelah perang dunia II prestasi dan popularitas bola voli di USA menurun, sedang di Negara lain terutama Eropa Timur dan Asia berkembang sangat cepat dan massal.
Mengingat turnamen bola voli yang pertama (1947) di Polandia pesertanya cukup banyak, maka pada tahun 1948 I.V.B.F (international volley ball federation) didirikan yang beranggota 15 negara.
Indonesia mengenal permainan bola voli sejak tahun 1982 pada zaman penjajahan Belanda. Guru-guru pendidikan jasmani didatangkan dari negeri Belanda untuk mengembangkan olahraga umumnya dan bola voli khususnya. Di samping guru-guru pendidikan jasmani, tentara Belanda banyak andilnya dalam pengembangan permainan bola voli di Indonesia, terutama dengan bermain di asrama-asrama, di lapangan terbuka dan mengadakan pertandingan antar kompeni-kompeni Belanda sendiri.
Permainan bola voli di Indonesia sangat pesat di seluruh lapisan mayarakat, sehingga timbul klub-klub di kota besar di seluruh Indonesia. Dengan dasar itulah maka pada tanggal 22 januari 1955 PBVSI (persatuan bola voli seluruh indonesia) didirikan di Jakarta bersamaan dengan kejuaraan nasional yang pertama.
PBVSI sejak itu aktif mengembangkan kegiatan-kegiatan baik ke dalm maupun ke luar negeri sampai sekarang. Perkembangan permainan bola voli sangat menonjol saat menjelang Asian Games IV 1962 dan Ganefo I 1963 di Jakarta, baik untuk pria maupun untuk wanitanya.
Pertandingan bola voli masuk acara resmi dalam PON II 1951 di Jakarta dan POM I di Yogyakarta tahun 1951. setelah tahun 1962 perkembangan bnola voli seperti jamur tumbuh di musim hujan banyaknya klub-klub bola voli di seluruh pelosok tanah air.
Hal ini terbukti pula dengan data-data peserta pertandingan dalam kejuaran nasional. PON dan pesta-pesta olahraga lain, di mana angka menunjukkan peningkatan jumlahnya. Boleh dikatakan sampai saat ini permainan bola voli di Indonesia menduduki tempat ketiga setelah sepak bola dan bulu tangkis.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah perbolavolian Indonesia, PBVSI telah dapat mengirimkan tim bola voli yunior Indonesia ke kejuaraan Dunia di Athena Yunani yang berlangsung dari tanggal 3-12 september 1989. tim bola voli yunior putra Indonesia ini dilatih oleh Yano Hadian dengan dibantu oleh trainer Kanwar, serta pelatih dari Jepang Hideto Nishioka, sedangkan pelatih fisik diserahkan kepada Engkos Kosasih dari bidang kepePembelajaran PKON (pusat kesehatan olahraga nasional) KANTOR MENPORA. Dalam kejuaraan dunia bola voli putra tersebut, sebagai juaranya adalah :
1. Uni Sovyet
2. Jepang
3. Brazil
4. Bulagaria
5. Kuba
6. Yunani
7. Polandia
Sedangkan Indonesia sendiri baru dapat menduduki urutan ke 15.
Dalam periode di bawah pimpinan ketua Umum PBVSI Jendral (Pol) Drs. Mochamad Sanusi, perbolavolian makin meningkat baik dari jumlahnya perkumpulan yang ada maupun dari lancarnya system kompetisi yang berlangsung, sampai dengan kegiatan yang dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri.
1.2 Ciri khas Permainan Bola Voli
Permainan bolavoli adalah suatu olahraga beregu yang dimainkan oleh dua regu yang masing-masing terdiri dari enam orang pemain di setiap lapangan dengan dipisahkan oleh net. Pantulan yang dimainkan itu dengan tangan atau lengan.
Tujuan dari permainan ini adalah agar setiap regu melewatkan bola secara teratur atau baik melalui net sampai bola itu menyentuh lantai (mati ) di daerah lawan, dan mencegah agar bola yang di lewatkan tidak menyentuh lantai dalam lapangan sendiri.
Posisi bola saat dimulainya permainan berada pada pemain kanan garis belakang, yaitu dimulai dengan melakukan servis, pukulan bola itu melewati  atas net ke dalam daerah lapangan lawan.
Masing-masing regu berhak memainkan bola tiga kali sentuhan ( kecuali perkenaan waktu membendung ) untuk mengembalikan ke daerah lawan. Seorang pemain ( kecuali pembendung ) tidak diperkenankan memainkan bola dua kali berturut-turut.
Permainan bola di udara berlangsung secara teratur, sampai bola tersebut menyentuh lantai, bola keluar, atau satu regu gagal mengembalikan bola secara baik. Didalam permainan BolaVoli menggunakan rely point regu yang bisa mematikan lawan mendapat angka. Baik regu yang sedang melakukan servis maupun menerima servis.
Apabila regu penerima memenangkan dalam permainan bola akan mendapat giliran servis, dalam set penentuan juga mendapat angka dan setiap pemain melakukan pergeseran satu posisi menurut arah jarum jam. Perputaran tersebut untuk menjamin bahwa pemain pada kedua belah pihak yang berada di depan net dan pada daerah belakang.
Suatu set dimenangkan oleh regu yang pertama mendapat angka 25 dengan minimal selisih angka 2 point. Dalam kedudukan angka 24-24, permainan dilanjutkan sampai terdapat selisih 2 angka (24-26, 25-27, 28-30) dan seterusnya tidak terbatas.
Bila kedudukan set 2-2, maka set penentuan dimainkan hanya sampai angka 15, dengan selisih 2 angka (14-16, 15-17, 16-18).

1.3 Fasilitas, Alat dan Perlengkapan

1.3.1 Lapangan
Lapangan dibuat di tanah yang rata dan cukup keras. Bila di dalam gedung maka lantainya harus tidak licin, rata dan tinggi atap gedung paling sedikit tujuh meter. Garis-garis lapangan selebar 5cm yang terdiri dari garis tengah, garis serang, garis samping dan garis belakang.
1.3.2 Jaring
Ukuran panjang jarring adalah 9,50m dan lebar 1meter. Ukuran petak-petak jarring / net (10 X 10 ) cm. Tali pemancang jarring kalau mungkin dengan kawat baja, bila tidak mungkin dengan menggunakan tali yang cukup kuat dan tidak terlalu lentur bila telah ditegangkan. Jarring harus diberi kain kanvas yang dijahit lapis dua selebar 5cm, sepanjang tepi atas jarring. Ukuran tinggi jarring untuk pria 2,43 meter dan untuk wanita setinggi 2,24 meter. Pada kedua samping jarring dipasang pita samping tegak lurus di atas pertemuan antara garis batas samping dan garis tengah selebar 5cm.




1.3.3 Rod/Tongkat
Rod di buat dari bahan fiberglass dengan ukuran panjang 180 cm dan garis tengah 1cm. Tongkat itu berwarna kontras dengan 10cm panjang tiap-tiap bagian berwarna mera putih. Tongkat dipasang tepat menempel pada pita batas samping, tongkat yang menonjol 80 cm di tepi atas net.

1.3.4 Bola
Bola harus bulat terbuat dari kulit, bola dalamnya terbuat dari karet atau bahan lain yang semacam. Keliling bola 65 sampai 67 cm, berat bola 250-280 gram.

1.4 Tinjauan Teknik Dasar Servis
Penguasaan teknik dasar servis dalam permainan bolavoli sangat penting  Karena servis pada awalnya adalah sebagai awal di mulainya suatu pertandingan bolavoli.
Servis merupakan permulaan dalam pertandingan hal ini sesuai dengan pendapat Dieter Beuterstahl ( 1986 : 9) bahwa : “servis adalah sentuhan pertama dengan bola”.
Sedangakan menurut Theng KH.(1972 : 28) bahwa: “servis adalah suatu pukulan yang di lakukan dari daerah service” .
Sedangkan dengan perkembangan olahraga bolavoli dewasa ini servis bukan hanya sebagai sentuhan pertama dalam pertandingan bolavoli melainkan sebagai serangan yang pertama dalam pertandingan bolavoli. Service kini dapat dimasukan kedalam kategori serangan, bahkan merupakan serangan yang pertama ( Theng KH. 1972 : 28).
Mula-mula servis ini hanya di anggap sebagai pukulan permulaan saja, cara melempar bola untuk memulai permainan. Tetapi servis ini kemudian berkembang menjadi suatu senjata yang ampuh untuk menyerang (Dieter beutelstahl 1986 : 9 )
Pada jaman sekarang ini servis ini tidak lagi sebagai tanda dimulainya pertandingan atau sekedar menyajikan bola tetapi hendaknya di artikan sebagai suatu serangan yang pertama kali bagi regu yang melakukan servis (Suharno HP 1982 : 16 )
Servis jika ditinjau dari segi taktik sudah merupakan suatu serangan awal untuk mendapat nilai agar agar suatu regu berhasil meraih kemenangan ( M. Yunus 1992 : 69 ).
Oleh karena itu, diperlukan penguasaan servis yang benar-benar memadai agar dalam melakukan teknik servis dapat berhasil dengan baik.
Dalam permainan bolavoli dewasa ini servis adalah serangan yang pertama dilakukan oleh regu yang melakukan servis, oleh karena itu setiap pemain dalam suatu team harus benar-benar menguasai servis dengan baik selain sebagai serangan servis juga sebagai modal dalam permainan bolavoli.
Untuk dapat melakukan teknik servis dengan baik harus memenuhi beberapa persyaratan.
Adapun persyaratan tersebut adalah :
  1. Arahkan servis ke tampat pemain yang lemah
  2. arahkan servis ke tempat yang kosong sesuai pola yang di pergunakan lawan
  3. Arahkan bola kearah antara kedua pemain defender
Seperti yang telah di sebutkan pada awal servis dahulu hanya sebagai awal sebelum memulai permainan bola voli namun sekarang telah berkembang menjadi serangan yang dilakukan pertama kali oleh regu yang melakukan servis. Dan kesalahan-kesalahan yang umum terjadi saat melakukan servis adalah :
  1. bola bergerak ke atas bukan ke depan dan tidak dapat menyebrangi net
  2. bola tidak cukup bertenaga untuk menyebrangi net sehingga bola menyangkut di net
  3. berat badan terlalu bertumpu di kaki belakang sehinnga bola melambung tinggi
  4. bola jatuh melewati garis belakang lawan
  5. bola servis terlalu ke kanan atau kekiri melewati garis samping lapangan lawan

II. Macam –macam servis
Macam macam servis yang digunakan adalah:
  1. Menurut putaran bola
    • Top spin
    • Back spin
    • In side spin
    • Out side spin
    • Float
  2. Servis tangan bawah
    • Back spin
    • Out side spin
    • In side spin
    • Cutting underhand
    • Floating underhand
  3. Servis atas ( Overhead service )
    • Tennis service / hook
    • Floating service
    • In side spin
    • Out side spin
    • Round house overhead
    • Slider floating overhead
    • Drive overhead
    • Honggaria overhead (Suharno HP, 1982 : 15 )
Sedangkan menurut dieter beutelstahl  (1986 : 10 ), bahwa jenis servis yang paling umum adalah :
  • Underarm service
  • Hook service
  • Floating service
Dan dalam pengembangannya masih ada servis dengan melompat atau jump serve, slider floating overhead dan servis cekis. pada dasarnya gerakan service terdiri dari beberapa tahap tahapan yaitu  throw up ( melempar bola ), sriking arm ( ayunan lengan ), impack (perkenaan bola ), follow trought ( gerak lanjut ). (bonnie,1993 : 26).
Sedangkan menurut Dieter beutelstahl ( 1986 : 10 ), bahwa “setiap jenis servis itu di bagi dalam tiga tahap yaitu: tahap pertama melempar bola ke atas ( throw up), tahap ke dua memukul bola ( hitting ), dan tahap ke tiga gerak akhir ( follow trough )”.
 Tetapi dari tiap-tiap service terdapat perbedaan. Maka perlu diuraikan macam-macam Servis yang ada sebagai pembanding dengan teknik servis yang diteliti. Untuk itu penjelasan selanjutnya menitik beratkan pada gerakan servis bawah normal.
Untuk lebih jelasnya, berikut penulis uraikan tentang teknik-teknik servis yang umum di lakukan di dalam permainan bola voli.

2.1 Servis tangan atas
2.1.1 Servis tennis / hook
Sikap permulaan :
Ambil sikap berdiri dengan kaki kiri berada lebih ke depan daripada kaki kanan dan lutut sedikit ditekuk. Tangan kiri dan kanan sama-sama memegang bola. Tangn kiri menyangga bola dan tangan kanan memegang bagian atas bola. Bola dilambungkan dengan tangan kiri ke atas sampai ketinggian kurang lebih setengah meter di atas kepala. Tangan kanan segera ditarik ke belakang atas kepala, dengan telapak tangan kanan menghadap ke depan.
Sikap saat perkenaan :
Setelah tangan kanan berada di atas belakang kepala dan bola berada sejangkauan tangan maka segera bola di pukul dengan cara memukul seperti pada waktu smash.
Setelah bola berhasil dipukul maka bola akan menjadi top spin selama menjalani lintasanya. Sewaktu akan melakukan servis perhatian harus selalu terpusat kepada bola. Lecutan tangan lengan sangat diperlukan didalam tennis servis ini dan bila perlu dibantu dengan gerakan togok kearah depan sehingga bola akan memutar lebih banyak. Pada waktu lengan dilecutkan, siku jangan sampai ikut tertarik ke bawah.
Sikap akhir :
Teruskan gerakan lengan dan segera langkahkan kaki ke depan dan bergerak ke posisi di dalam lapangan pertandingan.

Gambar 1 : Servis Hook/ Top spin. ( Barbara L Vierra, 1996 : 32 )

2.1.3 Servis mengapung ( float )
Sikap permulaan :
Berdiri dengan kaki kiri berada lebih ke depan daripada kaki kanan dan kedua lutut di tekuk. Tangan kiri dan kanan sama-sama memegang bola. Tangan kiri menyangga bola dan tangan kanan memegang bagian atas bola. Bola dilambungkan dengan tangan kiri ke atas sampai ketinggian kurang lebih setengah meter di atas kepala. Tangan kanan segera ditarik ke belakang atas kepala, dengan telapak tangan kanan menghadap ke depan.
Sikap saat perkenaan :
Bola dilambungkan dengan kaki kiri agak ke samping atas kanan depan tidak terlalu tinggi. Begitu bola melambung ke atas setinggi kepala maka segeralah tangan kanan yang telah di tegangkan dipukulkan dibagian tengah belakang bagian bola. Agar pukulan tangan betul-betul menghasilkan bola yang mengapung maka harus diusahakan pada saat memukul bola tidak ada atau sedikit pergerakan pada pergelangan tangan.
Ini dapat diusahakan dengan cara:
·         Memukul bola dengan tumit tangan
·         Dengan ibu jari di lipat kedalam dan menempel pada telapak tangan
·         Tangan dalam keadaan mengenggam
Pukulan harus dilaksanakan dengan cepat dan setelah bola terpukul gerakan tangan segera di tahan.
Sikap akhir :
Setelah tangan kanan memukul bola maka dilanjutkan dengan melangkah ke depan masuk ke dalam lapangan permainan.




Gambar 3 : Perkenaan bola pada saat servis atas (M.Yunus, 1992 : 75 )
2.1.4 Servis cekis
Sikap permulaan :
Ambil sikap berdiri menyamping dengan tubuh bagian kiri berada lebih dekat ke jarring ( sikap ini bagi yang tidak kidal ). Tangan kiri dan kanan bersama-sama memegang bola. Pada saat bola akan dilambungkan maka badan diliukan kearah belakang sedikit dan lutut ditekuk. Kedua tangan dijulurkan kearah samping bawah kanan masih dalam keadaan memegang bola. Setelah itu bola dilambungkan ke atas kepala agak tinggi dengan kedua tangan. Begitu bola lepas dari tangan maka tangan kanan ditarik ke samping kanan bawah, badan dalam keadaan meliuk ke samping kanan, berat badan berada di kaki kanan telapak tangan menghadap ke atas. Bila bola sudah setinggi jangkauan tangan maka secepatnya badan bersama-sama lengan kanan dibawa meliuk ke samping kiri.
Sikap saat perkenaan dengan bola :
Perkenaan tangan pada bola adalah di bagian bawah belakang bola. Pukulan tangan pada bola dibantu dengan liukan badan., lecutan lengan dan gerakan pergelangan tangan sedemikian rupa sehingga bola setelah dipukul mental keras dan top spin.
Karena putaran dan kerasnya pukulan maka bola akan menjalani lintasanya dengan cepat dan tajam jatuhnya. Gerakan tubuh waktu diliukan kearah samping kiri bersama-sama dengan ayunan lecutan lengan dan tangan kanan maka keseluruhan gerakan itu seakan-akan terletak dalam satu bidang datar. Pada saat tangan mengenai bola, berat bada terletak pada kedua kaki. Jadi pada saat itu badan dalam keadaan setimbang dan stabil.
Sikap akhir :
Setelah bola berhasil di pukul maka segera berat badan dipindahkan kekaki kiri dan terus diikuti dengan gerakan maju masuk ke dalam lapangan permainan. Selanjutnya mengambil sikap siap normal. Tangan kiri selama proses melakukan servis dalam keadaan relaks dan hanya sekedar dipakai untuk menjaga keseimbangan.


Gambar 4 : Servis Cekis (Barbara L Vierra, 1996 : 33 )

Gambar 5 : Rangkaian servis Cekis (M. Yunus, 1992 : 77 )

7.1.5 Jumping servis ( servis dengan melompat)
Sikap pemulaan :
Berdiri di daerah servis menghadap ke net kedua tangan memegang bola
Sikap perkenaan :
Lambungkan bola setinggi lebih kurang 3 meter agak di depan badan, kemudian badan merendah dan menekuk lutut untuk melakukan awalan melompat kemudian bola di pukul setinggi mungkin seperti gerakan smash. Lecutkan pergelangan tangan secepatnya sehingga menghasilkan pukulan top spin yang tinggi agar bola secepat mungkin turun ke daerah lapangan lawan.
Sikap akhir :
Setelah melakukan dengan meraih bola setinggi-tingginya pada saat melayang diudara, langsung mendarat di dalam lapangan dan segera mengambil posisi siap untuk menerima pengembalian atau serangan dari pihak lawan. Sebagai catatan, sewaktu mengambil awalan, tolakan kaki kedua kaki harus berada di belakang garis, tetapi pendaratan setelah memukul boleh menginjak garis atau mendarat jauh di dalam lapangan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Gambar 6 : Jump servis (M. Yunus,1992 : 78)
2.2 Servis tangan bawah
2.2.1 Cutting underhand service
Sikap permulaan :
Berdiri sikap normal dengan arah menyamping  lapangan. Kaki kiri agak ke depan sedikit, sedangkan kaki kanan pada posisi di belakan gsedikit sebagai penerima berat badan. Tangan pemukul bola lebih dekat dengan net, tangan yang lain memegang bola di depan kanan bawah lurus dengan bahu kanan berjarak satu jangkauan lengan pemukul. Konsentrasi pandangan ke bola yang akan di pukul ,sedangkan posisi telapak tangan pemukul membentuk bidang sagital dimana ibu jari terletak di atas jari yang lain sebagai alat pemotong bola dalam pukulan servis.
Sikap pada saat perkenaan :
Bola di lepas keatas kira-kira 5cm oleh tangan kiri, tangan kanan sebagai pemukul bola siap untuk diayunkan, pukulan bola perkenaanya seperti memotong bagian tengah bawah bola agak ke sisi kiri. Tapak tangan membentuk bidang sagital dimana ibu jari beserta bidang punggung tangan sebagai pemukul bola utama. Dengan ayunan secukupnya dalam memotong bola itu, akibatnya jalan bola akan melambung tinggi dengan putaran bola menjauhi net (top spin). Pada saat memukul bola kaki kanan di pindahkan ke depan, untuk memindahkan berat badan yang berguna untuk menambah kekuatan dan kecepatan memotong bola. Gerak kaki, badan tetap mengesampingkan net arahnya selama proses memukul
bola, tetapi pandangan mata kearah bola yang di pukul dan kesasaran lapangan lawan.
Sikap setelah memukul :
Gerakan badan, lengan, kaki harus harmonis arahnya setelah memukul bola. Pandangan mata kearah bola yang dipukul, segera setelah itu putar badan kearah kanan, kemudian masuk ke lapangan permainan untuk siap bermain. Pada teknik  cutting underhand service ini sering dilakukan oleh pemain bila bertanding di luar, mungkin juga di dalam gedung, asal di atas lapangan ada ruang bebas minimal 10m di atas net. Teknik ini merupakan teknik tinggi servis tangan bawah.

2.2.2 Servis mengapung tangan bawah
Sikap permulaan :
Berdiri normal dengan kaki kiri agak didepan kaki kanan. Pegang bola dengan tangan kiri, konsentrasi pandangan kearah bola. Bola di lambungkan berada di depan sebelah kanan sejajar dengan bahu kanan setinggi pinggang. Pada saat lemparan bola itu lengan kanan dengan tapak tangan menggenggam siap untuk diayunkan sebagai pemukul dalam servis.
Sikap saat perkenaan :
Perkenaan pukulan tepat pada bagian belakang tengah bola, dimana tapak tangan mengenggam dan pukulan dengan tumit tangan. Pada saat memukul pergelangan tangan di tegangkan sehingga perkenaan bola itu tepat pada titik tengah belakang bola tanpa ada gerakan dari pols (pergelangan tangan). Akibat pukulan demikian itu selama bola melintasi jalan di udara tidak ada putaran sedikitpun. Bola disamping tidak berputar Jalan bola seperti mengapung zig-zag kekanan dan kekiri udara.
Sikap akhir setelah memukul :
Setelah memukul, kaki kanan melangkah ke depan secara relaks untuk menjaga keseimbangan dan memindahkan berat badan untuk menambah kekuatan pukulan. Pandangan mata selalu kearah bola yang di pukul kemudian masuk di lapangan siap bermain.
Teknik servis ini sangat efektif dan efisien bila diterapkan dalam pertandingan bola voli.
Untuk pemain putri lebih baik dilatihkan teknik ini sesuai dengan sifat kewanitaanya yang biasanya lemah dan dalam unsur kecepatan dan kekuatan lengan.
Kelihatanya sederhana pelaksanaan teknik servis cutting underhand service atau teknik servis mengapung tangan bawah ini namun dalam pertandingan-pertandingan servis ini sulit diterima oleh lawan.

2.2.3 Servis tangan bawah normal
Sikap permulaan :
Mula-mula berdiri dengan kaki kiri agak lebih ke depan dari kaki kanan ( bagi yang tidak kidal). Pegang bola dengan tangan kiri. Lambungkan bola ke atas tidak terlalu tinggi, pada saat itu pula tangan kanan di tarik ke bawah ke belakang. Setelah bola yang di lambungkan tadi berada di arah depan pelaksana kira-kira setinggi pinggang, maka pada saat itu pula tangan serta lengan kanan yang lurus siap diayunkan dari arah belakang ke depan atas untuk memukul bola.

Sikap saat perkenaan :
Perkenaan bola adalah pada tangan. Telapak tangan menghadap bola dan tangan pada waktu itu dalam keadaan di tegangkan agar terjadi pantulan yang di anggap sempurna. Pada saat perkenaan tangan pada bola, di samping tangan di tegangkan dapat juga di tambah dengan gerakan tangan secara eksplosif. Disamping pukulan tersebut dapat pula dilakukan dengan cara lain yaitu dengan tangan mengepal atau mengenggam dengan genggaman menghadap ke bola.
Sikap akhir :
Setelah memukul bola maka di ikuti langkah kaki kanan ke depan dan terus masuk ke lapangan permainan serta mengambil sikap siap normal.( Suharno HP,1982 : 17 ).
Sedangkan menurut Dieter beutelstahl ( 1986 : 11 ) :
Tahap pertama : Fase trow up ( melempar bola ). Berat badan ditempatkan pada kaki sebelah belakang. Lengan digerakan ke belakang dan ke atas.
Tahap kedua : lengan bermain ( dengan ini yang dimaksudkan lengan yang digunakan untuk memukul bola. Dengan istilah asing disebut “strike arm”. Lengan kanan untuk pemain kanan dan lengan kiri untuk pemain kidal) diayunkan ke bawah, dari belakang ke depan dan memukul bola yang telah di lemparkan rendah-rendah. Sementara itu berat badan dipindahkan ke kaki sebelah depan. Bola dipukul dengan telapak tangan terbuka, pergelangan sekaku mungkin.
Tahap ketiga: Striking arm terus mengikuti arah bola. Pemain cepat-cepat berpindah ke posisi yangbaru dilapangan.

Gambar 7 : Gerakan servis bawah normal (Barbara L Vierra, 1996 : 30 )




                                                           
   Gambar 8 : Rangkaian servis bawah. ( M. Yunus, 1992 : 73)

2.3 Tinjaun dari masing-masing bentuk Pembelajaran servis
Dalam  makalah  ini, Pembelajaran yang dilakukan adalah bertujuan untuk meningkatkan kemampuan melakukan servis dalam permainan bolavoli. Pembelajaran dalam melakukan servis sangat di perlukan yaitu untuk memulai suatu permainan bahkan untuk menghasilkan angka pertama bagi team yang melakukan servis.

2.3.1 Pembelajaran servis menggunakan dua tahap
Dalam Pembelajaran ini siswa melakukan servis dari jarak tertentu kemudian berangsur-angsur mundur ke belakang ke jarak yang sebenarnya. Dalam melakukan servis minimal anak harus bisa menempuh jarak 9 meter agar bolanya bisa masuk ke dalam lapangan lawan.
Untuk menempuh jarak 9 meter dari net maka anak akan melakukan Pembelajaran melalui 2 tahapan yang akan membantu dalam meningkatkan kemampuan melakukan servis pada olahraga bolavoli.
Pada tahapan jarak yang pertama adalah siswa melakukan servis dari jarak 4,5 meter dari net. Dan pada tahapan yang selanjutnya maka jarak itu akan di perbesar ke jarak service yang sebenarnya yaitu 9 meter dari net.
       A                   B               C           D                                                         E






       F                      G            H             I                                                          J
Gambar 9 : Lapangan Pembelajaran servis dua tahap
Keterangan :
A-E   = 18 meter
E-J    = 9 meter
D-I    = Garis tengah
C-H   = Garis serang (3 m dari net )
B-G   = 4,5 meter dari net
A-F   = 9 meter dari net

2.3.2 Pembelajaran servis menggunakan tiga tahap
 Pada Pembelajaran servis ini siswa melakukan tiga tahapan jarak yang harus di tempuh dalam melakukan servis. Untuk itu kita membagi lapangan menjadi tiga bagian jarak dari net yaitu 3meter dari net, 6 meter dari net, dan 9 meter dari net.
Pada tahapan yang pertama anak melakukan Pembelajaran servis pada jarak tiga meter dari net. Kemudian pada tahapan yang kedua siswa melakukan servis pada jarak enam meter dari net. Sedangkan pada tahapan yang ke tiga anak akan mundur ke belakang pada jarak yang sebenarnya yaitu pada jarak sembilan meter dari net.
          A               B                   C                D                                                     E







         F                 G                  H                I                                                       J
Gambar 10 : Lapangan Pembelajaran servis tiga tahap.

Keterangan :
A-E   = 18 meter
E-J    = 9 meter
D-I    = Garis tengah
C-H   = Garis serang (3 m dari net )
B-G   = 6 meter dari net
A-F   = 9 meter dari net










    






BAB III
PENUTUP

A.      KESIMPULAN
Dari beberapa uraian dan penjelasan yang telah dikemukakan di atas maka dapatlah penulis mengambil kesimpulan bahwa dengan mata pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan ini, peserta didik mampu mempraktikkan teknik-teknik dasar dalam olahraga dengan baik serta nilai kerjasama, toleransi, percaya diri, kejujuran, keberanian, menghargai lawan, kerja keras, dan menerima kekalahan serta dapat mengaplikasikan cara hidup yang sehat dan bersih.

B.       SARAN
Kami sebagai penyusun makalah ini, sangat mengharap atas segala saran – saran dan kritikan bagi para pembaca yang kami hormati guna untuk membangun pada masa yang akan datang untuk menjadi yang lebih baik dalam membenarkan alur-alur yang semestinya kurang memuaskan bagi tugas yang kami laksanakan.










DAFTAR PUSTAKA



Beutelstahl, Dieter. 1986. Belajar Bermain Bola Volley (terjemahan). Bandung : Pionerjaya.

Bonnie Robinson. 1997. Bimbingan, Petunjuk dan Teknik Bermain (terjemahan). Semarang : Penerbit Dahara Prize.

Durrwachter, Gerhard. 1982. Bola Voli (terjemahan). Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Suharno HP. 1982. Dasar-dasar Permainan Bola Voli. Yogyakarta : IKIP Yogyakarta.
__________. 1985. Metodik Melatih Permainan Bola Voli. Yogyakarta : Depdikbud

Suharsimi Arikunto. 1991. Prosedur Makalah Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : PT Aneka Cipta

Sutrisno Hadi. 1988. Metodologi Research Jilid III. Yogyakarta : Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM.

___________.1991. Metodologi Research Jilid IV. Yogyakarta : Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM.

Theng, KH. 1973. Volley Ball Modern. Jakarta : Yayasan Kanisius.

Viera Barbara l. Donnie Jill Ferguson. 1996. Bola Voli Tingkat Pemula (terjemahan). Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Yunus. M. 1992. Olahraga Pilihan Bola Voli. Semarang : Depdikbud, Direktorat Jenderal Kependidikan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar